Pemilik SPPG Ngaku Cucu Menteri Di Ponorogo Di Wadulkan Ke BGN, Rekayasa Anggaran Rp10rb Jadi Rp6.500

Reporter : Redaksi
Nanik S Deyang wakil kepala BGN saat sidak ke Blitar Jawa Timur. Senin (15/3/2026)

Blitar, mediarakyatdemokrasi.com- Pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Ponorogo, Jawa Timur mengaku sebagai cucu Menteri, ia lalu melakukan intimidasi terhadap Kepala SPPG Ponorogo Kauman, Somorto dan Kepala SPPG Ponorogo Jambon Krebet, Syafi'i Misbachul Mufid. 

Dua Kepala SPPG itu lalu mengaduan nasibnya kepada Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang yang sedang kunjungan kerja di Blitar, Jawa Timur, pada akhir pekan lalu. 

“Dua kepala SPPG dari Ponorogo ini jauh-jauh datang ke Blitar untuk menemui saya karena minta perlindungan,” ujar Nanik dalam keterangannya, Senin (16/3/2026). 

Somorto dan Syafi'i mengadukan semua yang mereka alami saat mengelola dua SPPG di bawah Yayasan Bhakti Bhojana Nusantara. 

Pasalnya, selama berbulan-bulan, mereka bersama pengawas gizi, dan pengawas keuangan selalu ditekan dan diintimidasi yayasan yang mengaku dimiliki seorang cucu menteri itu. 

Rekayasa Anggaran

Selain itu, yayasan tersebut juga diduga telah merekayasa pembelian bahan pangan. 

Nanik memaparkan, dari budget Rp 10.000 per porsi untuk pembelian bahan pangan yang ditetapkan BGN, mereka hanya membelanjakan Rp 6.500 per porsi. 

Akibatnya, kedua kepala SPPG itu kerap harus nombok, alias menutup kekurangan belanja dari kantong pribadi, supaya menu Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap terlihat pantas. 

“Mau enggak mau, Pak, saya kasihan sama adik-adik siswa penerima manfaat,” kata Mufid. 

Nanik menekankan, perbuatan pemilik yayasan itu sungguh tidak manusiawi dan tidak pantas. 

Tebar Ancaman

Yayasan tersebut selama ini menekan dan menakut-nakuti para kepala SPPG bahwa akan mendatangkan polisi atau pengacara jika tidak mengikuti kemauan pemilik yang mengaku cucu menteri. 

Bahkan, lanjut Nanik, semua relawan dan sekolah penerima manfaat pun diminta tanda tangan untuk mengusir kedua kepala SPPG itu. 

Mendengar keluhan dan pengaduan kedua kepala SPPG yang sampai menangis, Nanik pun langsung menugaskan Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II Brigjen TNI Albertus Dony Dewantoro dan tim untuk menginspeksi kedua dapur MBG itu secara langsung. 

Nanik mengaku sangat marah. 

Sebab, kedua kepala SPPG itu direkrut sebagai perwakilan BGN, tapi ada upaya yayasan untuk menyingkirkan mereka dengan cara-cara yang sangat keji. 

Nanik lantas langsung memerintahkan Brigjen Dony untuk menutup dapur itu. 

“Hentikan! Kalau perlu selamanya, kalau mereka tidak menunjukkan perbaikan sikap mereka kepada kepala SPPG, pengawas gizi, dan pengawas keuangan,” tukas Nanik. 

Menteri yang Namanya Dicatut Buka Suara

Nanik menelepon menteri yang dicatut oleh pemilik yayasan yang mengaku cucu menteri tersebut. 

Menteri yang tidak disebutkan namanya ini mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki cucu yang memiliki kedua dapur itu. 

Menurut Nanik, si menteri bahkan menegaskan agar dapur MBG langsung ditutup saja jika ada orang lain yang mengaku sebagai keluarganya. 

“Tutup saja dapurnya!" seru Nanik menirukan ucapan menteri. 

Selain itu, menteri yang dicatut juga berpesan agar jangan ada keluarga beliau yang diberi fasilitas titik SPPG. 

Kondisi Dapur MBG 

Lebih jauh, tim sidak mendapati kondisi dapur tersebut dalam kondisi kotor, bau, jorok, dan belum memenuhi ketentuan petunjuk teknis maupun SOP SPPG. 

Di antaranya seperti lantai dapur yang mengelupas, dinding-dinding dapur kotor, keropos, dan ber-AC, tidak ada ruang istirahat, serta loker yang seadanya dan tidak terpisah. 

Untuk memperbaiki berbagai sarana dan prasarana dapur, kedua kepala SPPG itu terpaksa merogoh kocek mereka sendiri. S

Sebab, yayasan yang mengelola kedua SPPG itu tidak mau keluar uang lagi untuk sekadar memperbaiki dapur. 

Dari aroma busuk yang meruap dari kedua dapur itu, Brigjen Dony menegaskan bahwa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) mereka sangat tidak memadai.

“Dapur-dapur ini sangat tidak layak untuk dilanjutkan,” ucap Dony. (rd/trib)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru