Kritik Pedas Dari Akademisi Untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran Hingga Seruan Reformasi Jilid II

avatar Redaksi
Prabowo Subianto Presiden RI
Prabowo Subianto Presiden RI

Surabaya, mediarakyatdemokrasi.com- Gelombang kritik dari kalangan akademisi dan mahasiswa kembali menggema di Yogyakarta yang dikenal sebagai Kota Pelajar.

Suara perlawanan moral itu muncul lewat berbagai forum diskusi publik yang menyoroti arah pemerintahan saat ini.

Sorotan tajam kembali diarahkan kepada Presiden Prabowo Subianto beserta jajaran pemerintahannya.

Dalam forum bertajuk Terus Terang Mahfud MD, sejumlah kritik keras disampaikan secara terbuka di hadapan publik.

Acara tersebut digelar di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, dan turut disiarkan melalui kanal YouTube Mahfud MD Official pada Kamis (21/5/2026).

Diskusi berlangsung panas ketika berbagai persoalan bangsa mulai dibedah satu per satu oleh para narasumber.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi sasaran utama kritik yang dinilai semakin tajam.

Sejumlah pernyataan yang dilontarkan dalam forum itu bahkan dianggap langsung menyentuh pusat kekuasaan nasional.

Atmosfer diskusi dipenuhi nada keresahan sekaligus tuntutan moral terhadap kondisi demokrasi dan pemerintahan saat ini.

Munculnya kembali kritik dari lingkungan kampus dinilai menjadi sinyal bahwa suara akademisi masih tetap hidup mengawal jalannya kekuasaan.

Soroti Pengangkatan Teddy dan Revisi UU TNI

Tiyo juga menyoroti pengangkatan Teddy Indra Wijaya sebagai Sekretaris Kabinet (Seskab), yang menurutnya menimbulkan polemik terkait status militer aktif.

“Tapi apa yang dilakukan di hari pertama Prabowo Subianto berkuasa? Dia mengangkat Teddy sebagai seskab yang itu jelas-jelas melanggar Undang-Undang TNI,” katanya.

Ia bahkan menyindir revisi aturan yang dinilai dilakukan demi menyesuaikan jabatan tersebut.

“Sesudah tahu itu melanggar, bukan Teddy yang dicopot, tapi undang-undangnya yang diubah,” lanjutnya.

Dalam pernyataannya, Tiyo menyebut hanya ada dua tipe orang yang masih berbaik sangka terhadap penguasa saat ini.

“Satu, orang bodoh. Yang kedua, orang yang turut menikmati kekuasaan,” ucapnya.

Pernah Diundang ke Istana, Tetapi Menolak

Dalam podcast Terus Terang Media sebelumnya, Tiyo juga mengungkap bahwa dirinya pernah diundang ke Istana Presiden pada Agustus 2025. Namun undangan tersebut ia tolak.

“Saya sudah diundang untuk ke istana di bulan Agustus dan saya menolaknya. Jadi enggak usah bicara kalau. Kita sudah pernah nolak itu,” ujarnya.

Menurut Tiyo, seluruh kritik yang ia sampaikan sebenarnya dapat diakses langsung oleh Presiden tanpa perlu pertemuan formal.

“Seluruh yang kita sampaikan itu bisa ditonton sendiri oleh Presiden lewat podcast. Jadi enggak perlu ketemu,” katanya.

Seruan Reformasi Jilid Dua

Tiyo menyerukan pentingnya refleksi besar terhadap kondisi demokrasi Indonesia saat ini.

Ia bahkan menyebut perlunya “reformasi jilid dua”.

“Saya ngajak teman-teman untuk mulai berimajinasi tentang reformasi jilid dua. Karena seluruh syarat terjadinya reformasi itu sudah lengkap,” katanya.

Meski keras mengkritik pemerintah, Tiyo mengaku tetap membuka ruang perubahan apabila pemerintahan Prabowo-Gibran mampu membuktikan keberpihakannya kepada rakyat.

“Kalau saja Pak Presiden bertaubat secara politik dan jadi presiden yang baik, mungkin saya mau kok jadi orang pertama yang akan dukung beliau,” ujarnya.

“Rakyat ini enggak pengin punya pemimpin yang harus dikritik. Penginnya punya pemimpin yang bisa kita andalkan, bisa kita banggakan,” tandas Tiyo. (rd/tribtren)

Berita Terbaru